Home » » FW: Lianna Gunawan, dari Ibu Rumah Tangga Jadi Pebisnis Sepatu Sukses

FW: Lianna Gunawan, dari Ibu Rumah Tangga Jadi Pebisnis Sepatu Sukses

 

 

Feed: Wolipop
Posted on: Friday, June 14, 2013 14:41
Author: Wolipop
Subject: Lianna Gunawan, dari Ibu Rumah Tangga Jadi Pebisnis Sepatu Sukses

 

Jakarta - Usaha sepatu yang dirintisnya baru berjalan kurang dari tiga tahun. Tapi hasil karya wanita berusia 35 tahun ini sudah mencapai luar negeri. Lewat brand sepatu bernama La Spina, ia juga berhasil memboyong trofi dalam ajang penghargaan bergengsi dunia Cartier Initiative Women’s Award 2012.

Dia adalah Lianna Gunawan, seorang ibu rumah tangga yang menjadikan kecintaannya pada sepatu sebagai bisnis berbuah sukses. Uniquely Indonesian Shoes menjadi konsep brand sepatu yang didirikannya pada April 2011. Kenapa Indonesian Shoes? Karena di setiap pasang sepatu memiliki motif khas Indonesia, seperti batik dan tenun. Sepatu motif etnik ini tak hanya laris manis di Indonesia, tapi juga luar negeri seperti Jepang, Eropa hingga Afrika Selatan.

"Awalnya aku suka bikin sepatu sendiri. Aku ambil contoh dari gambar ini, gambar itu lalu minta ke tukang untuk dibuatkan. Terus banyak yang bilang 'eh lucu ya sepatu kamu'. Akhirnya aku coba foto sepatu-sepatu yang aku order (ke tukang) itu dan posting di Facebook. Dapat comment, ada yang add friend pokoknya heboh. Aku pikir, kenapa nggak menjadikan ini sebagai bisnis," urai Lianna saat berbincang dengan wolipop di Rumah Imam Bonjol, Jl. Imam Bonjol, Menteng, Jakarta Pusat.

Dari situlah ide untuk membuat bisnis sepatu ini berasal. Lianna pun mulai menerima pesanan sepatu custom-made secara online. Begitu ada yang memesan lewat Facebook, ibu satu anak ini akan membawa contoh model sepatu ke tukang untuk dibuatkan sesuai permintaan. Jadilah Lianna sebagai 'makelar sepatu' saat itu.

Sukses dalam waktu yang terbilang singkat, bukan berarti tidak ada aral melintang yang dilalui Lianna dalam merintis bisnisnya. Mengalami beberapa kali trial and error dalam memantapkan konsep sepatunya, juga sempat tidak lulus seleksi menjadi peserta pameran.

"Awalnya aku jalanin banyak ruginya. Misalnya pelanggan ingin warna bahannya oranye tapi setelah jadi berbeda. Lalu banyak customer yang komplain karena ukurannya berbeda," ucap Lianna.

Wanita yang hobi membaca buku autobiografi dan traveling ini pun mulai memutar otak untuk membuat produknya diterima masyarakat, tapi punya keunikan yang jadi daya tarik tersendiri. Ide pun tercetus. Yaitu membuat sepatu dengan sentuhan Indonesia di dalamnya. Lalu terciptalah sepatu bermotif batik. Setelah menjalani proses trial and error selama enam bulan, terciptalah sepatu etnik dengan label La Spina.

Penampilan perdana La Spina di pameran kerajinan tangan Inacraft pada 2011. Awalnya, produk buatan Lianna sempat tak lolos seleksi untuk ikut pameran. Di tengah kekecewaannya, jalan pun terbuka bagi wanita asal Semarang ini.

"Memang Tuhan itu baik ya. Jadi setelah saya ditolak, akhirnya ada yang cancel tiga hari sebelum Inacraft. Lalu orang Inacraft telepon. Ya begitu, anugerah banget bisa dapat," ujarnya.

Launching perdana La Spina, respon pengunjung pun cukup baik. Dari 200 pasang sepatu yang dibawanya ke pameran, semuanya habis terjual. Ia pun mendapatkan Inacraft Awards dari Departemen Perdagangan. Padahal, Lianna sempat pesimis barang jualannya tidak akan laku.

"Ada yang comment, kalau batik jadi sepatu gimana... gitu. Atau komennya, 'Aduh Lianna, I love shoes tapi kalau batik enggak kayanya ya...' Tapi aku punya feeling ini ada target juga di luar sana," ucapnya.

Feeling Lianna ternyata tepat. Cukup banyak yang menyukai sepatu buatannya. La Spina telah menjajaki Jepang lewat perhelatan Asian Japan Center dan kini rutin dipasarkan di Negeri Sakura itu.

"Jepang is really really good. Mereka sangat suka, apresiatif sekali. Kita juga punya customer di Jepang. Jadi ada pemasoknya di situ. Di Indonesia sendiri, kita punya online shop jadi sudah punya customer sendiri dari Sabang sampai Merauke. Tapi kalau outlet hanya ada di Jakarta," tuturnya.

Dari bisnis sepatu kecil-kecilan, kini Lianna dan stafnya sudah mampu memproduksi 500 hingga 700 pasang sepatu setiap bulannya. Menariknya, sebagian besar sepatu La Spina diproduksi secara handmade. Tak hanya batik, Lianna juga mengembangkan sepatu dengan motif tenun dan ukiran.

(hst/hst)

 

Browser anda tidak mendukung iFrame


View article...

Enclosures:

liannadalem.jpg (10 KB)
http://detik.feedsportal.com/c/33613/f/656124/e/1/s/2d465ffa/l/0Limages0Bdetik0N0Ccontent0C20A130C0A60C140C11330Cliannadalem0Bjpg/liannadalem.jpg

 


KOMENTAR ANDA